Contoh Kemampuan dan Cara Mendukungnya
“Aku duluan!”
“Enggak, aku belum selesai!”
Dua anak berebut satu mainan. Salah satunya mulai menangis, sementara yang lain menarik benda itu lebih kuat.
Bagi orang dewasa, situasi seperti ini sering terlihat sebagai masalah perilaku. Padahal, di balik konflik kecil tersebut ada banyak hal yang sedang dipelajari: menunggu giliran, memahami keinginan orang lain, mengelola rasa kecewa, menyampaikan kebutuhan, dan mencari cara agar permainan dapat berlanjut.
Itulah bagian dari perkembangan sosial emosional anak usia 5-6 tahun.
Perkembangan sosial-emosional bukan hanya tentang apakah anak mudah bergaul atau jarang menangis. Ia mencakup bagaimana anak memahami dirinya, mengenali dan mengelola emosi, berinteraksi dengan orang lain, memahami aturan sosial, bekerja sama, menghadapi konflik, serta menyampaikan kebutuhan dengan cara yang semakin tepat.
Secara sederhana, perkembangan sosial-emosional adalah perkembangan dalam cara anak memahami dirinya, mengenali dan mengelola emosi, serta membangun hubungan dengan orang lain.
Bayangkan seorang anak kalah dalam permainan. Ia kecewa.
Dulu mungkin ia langsung membuang alat permainan. Sekarang ia masih sedih, tetapi mulai mampu berkata,
“Aku enggak suka kalah.”
Itu bukan berarti ia sudah selesai belajar mengelola emosi. Namun ada perkembangan penting: ia mulai mengenali perasaannya dan menggunakan bahasa untuk menyampaikannya.
Dalam contoh lain, seorang anak melihat temannya jatuh lalu mendekat, mengambilkan tisu, atau memanggil guru. Perilaku seperti itu dapat menjadi salah satu tanda bahwa anak mulai memperhatikan keadaan orang lain.
Karena itu, perkembangan sosial emosional anak usia 5-6 tahun lebih tepat dipahami sebagai proses bertahap, bukan sebagai daftar perilaku “baik” dan “buruk”.
Dalam Panduan Capaian Pembelajaran Fase Fondasi, perkembangan sosial-emosional juga ditempatkan sebagai kemampuan fondasional karena membantu anak berinteraksi secara sehat dan membangun regulasi diri untuk mengikuti berbagai pengalaman belajar.
Setiap anak dapat menunjukkan perkembangan dengan kecepatan dan cara yang berbeda.
Untuk usia 5 tahun, CDC memasukkan beberapa contoh milestone sosial-emosional seperti mengikuti aturan atau bergiliran saat bermain dengan anak lain, bernyanyi, menari, atau berakting untuk orang dewasa, serta melakukan tugas rumah sederhana.
CDC juga menjelaskan bahwa milestone menggambarkan kemampuan yang dapat dilakukan sekitar 75% atau lebih anak pada usia tertentu dan bukan pengganti skrining perkembangan yang terstandar.
Karena artikel ini membahas rentang 5-6 tahun, contoh CDC tersebut perlu dipahami sebagai rujukan usia 5 tahun, bukan standar tunggal untuk seluruh anak pada rentang tersebut.
Yang lebih berguna adalah memperhatikan pola perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari.
“Aku marah.”
“Aku malu.”
“Aku takut.”
Kemampuan memberi nama pada emosi merupakan salah satu fondasi penting dalam perkembangan sosial-emosional.
Anak yang mampu mengenali apa yang sedang ia rasakan memiliki lebih banyak kesempatan untuk belajar mengelolanya.
Kemampuan ini membutuhkan pengalaman dan bahasa.
Orang dewasa dapat membantu dengan mengatakan,
“Kamu kelihatan kecewa karena bangunannya roboh.”
atau,
“Kamu marah karena masih ingin bermain.”
Kalimat seperti itu membantu anak menghubungkan pengalaman tubuh dan perasaannya dengan kata yang tepat.
Membicarakan emosi juga dapat dilakukan melalui cerita. Saat tokoh dalam buku tampak sedih, takut, atau senang, orang dewasa dapat bertanya,
“Menurutmu dia sedang merasa apa?”
Ini memberi anak kesempatan mengenali emosi tanpa harus selalu membicarakan dirinya sendiri.
Mengenali emosi dan mampu mengelolanya adalah dua hal yang berbeda.
Seorang anak bisa tahu bahwa ia marah tetapi tetap membutuhkan bantuan untuk menenangkan diri.
Pada usia 5-6 tahun, anak dapat mulai menemukan strategi yang membantunya, misalnya meminta bantuan, mengambil jeda, berpindah ke tempat yang lebih tenang, berbicara tentang perasaannya, atau menggunakan rutinitas menenangkan yang sudah dikenalnya.
Strategi yang cocok untuk satu anak belum tentu sama dengan anak lain.
Konsistensinya juga dapat berubah.
Anak yang biasanya mampu menunggu mungkin lebih mudah kehilangan kendali ketika lelah, lapar, kecewa berat, atau berada di lingkungan yang baru.
Karena itu, perkembangan sosial emosional anak usia 5-6 tahun perlu dilihat bersama konteksnya.
Pertanyaan yang lebih berguna bukan:
“Kenapa dia selalu begitu?”
melainkan:
“Apa yang sedang terjadi sebelum perilaku ini muncul?”
Menunggu terlihat sederhana bagi orang dewasa.
Bagi anak usia dini, menunggu membutuhkan beberapa kemampuan sekaligus: menahan keinginan, memahami aturan, memperhatikan orang lain, dan percaya bahwa gilirannya akan datang.
Saat bermain permainan sederhana atau menggunakan alat bersama, anak mungkin sudah lebih mampu menunggu. Namun ketika benda tersebut sangat menarik baginya, kemampuannya dapat kembali goyah.
Ini bagian dari proses belajar.
CDC memasukkan mengikuti aturan atau bergiliran dalam permainan dengan anak lain sebagai salah satu milestone sosial-emosional usia 5 tahun.
Orang dewasa dapat membantu dengan bahasa yang singkat:
“Sekarang giliran Aisyah. Setelah itu giliran kamu.”
Menunggu bukan hanya belajar menahan diri. Anak juga sedang memahami aturan, keberadaan orang lain, dan bahwa haknya tetap akan mendapatkan tempat.
Seorang teman menangis.
Anak mendekat dan bertanya,
“Kamu sakit?”
atau mencoba mencari bantuan.
Perilaku seperti ini dapat menunjukkan bahwa anak mulai memperhatikan keadaan orang lain.
Namun kita tidak sebaiknya menyimpulkan kemampuan empati anak hanya dari satu tindakan.
Anak yang sama dapat sangat peduli pada satu situasi, lalu masih sangat fokus pada kebutuhannya sendiri di situasi lain.
Itu wajar.
Anak sedang belajar bahwa orang lain mempunyai perasaan, keinginan, dan sudut pandang yang mungkin berbeda dengan dirinya.
Pertanyaan seperti,
“Menurutmu temanmu merasa bagaimana?”
dapat membantu anak berhenti sejenak dan mencoba melihat situasi dari sisi lain.
Empat anak sedang membuat bangunan.
Satu ingin membuat rumah.
Yang lain ingin membuat kandang hewan.
Perbedaan ide muncul, tetapi justru di situlah pengalaman sosial menjadi nyata.
Anak belajar menyampaikan gagasan, mendengarkan orang lain, berbagi bahan, menerima peran, menyesuaikan rencana, dan menyelesaikan sesuatu bersama.
Kolaborasi pada usia dini tidak selalu terlihat rapi.
Kadang ada protes.
Kadang muncul perebutan bahan.
Kadang seorang anak meninggalkan kelompok lalu kembali beberapa menit kemudian.
Yang penting adalah anak mendapat kesempatan untuk mengalami interaksi sosial secara nyata dengan dukungan orang dewasa yang cukup.
Konflik bukan tanda bahwa perkembangan sosial anak gagal.
Justru konflik memberi kesempatan anak belajar menghadapi perbedaan.
Dua anak menginginkan mainan yang sama.
Guru tidak selalu harus langsung menentukan siapa yang benar.
Ia dapat membantu memperjelas situasi:
“Kalian berdua ingin memakai mobil yang sama.”
Lalu membuka kemungkinan:
“Apa yang bisa kita lakukan?”
Mungkin bergiliran.
Mungkin mencari benda serupa.
Mungkin permainan dapat digabungkan.
Anak usia 5-6 tahun belum selalu mampu menyelesaikan konflik secara mandiri.
Bantuan orang dewasa masih sangat wajar.
Dalam SK Profil Perkembangan Lulusan Impianku, profil Peduli dan Kolaboratif mencakup berbagi, menunggu giliran, mendengarkan, berpartisipasi dalam kegiatan bersama, dan mulai menyelesaikan perbedaan dengan bimbingan.
Aturan membantu anak memahami apa yang dapat diprediksi dalam lingkungan.
Misalnya:
menunggu giliran;
merapikan alat;
mendengarkan saat orang lain berbicara;
meminta izin;
mengikuti aturan permainan.
Tujuan aturan bukan sekadar membuat anak patuh.
Aturan membantu anak memahami batas yang menjaga keamanan, rasa hormat, dan kehidupan bersama.
Anak biasanya lebih mudah memahami aturan yang singkat, konkret, konsisten, dan dicontohkan oleh orang dewasa.
“Jangan berantakan” terlalu abstrak.
“Setelah selesai, balok kembali ke rak” jauh lebih jelas.
Alih-alih langsung mengambil, anak mulai belajar berkata,
“Boleh aku pinjam?”
Alih-alih mendorong, ia mulai mampu mengatakan,
“Aku belum selesai.”
Kemampuan seperti ini berada di perbatasan antara perkembangan sosial-emosional dan komunikasi.
Perkembangan anak memang tidak berjalan dalam kotak-kotak yang sepenuhnya terpisah.
Anak membutuhkan bahasa untuk mengelola hubungan.
Semakin banyak cara yang ia miliki untuk menyampaikan kebutuhan dan perasaannya, semakin banyak pula pilihan selain bereaksi secara impulsif.


Tidak.
Menangis adalah salah satu cara manusia mengekspresikan emosi.
Yang lebih berguna bukan menilai apakah anak pernah menangis, tetapi memperhatikan:
apa yang memicu;
seberapa kuat reaksinya;
berapa lama ia membutuhkan bantuan;
apakah ia mulai mengenali perasaannya;
apakah ia memiliki cara lain untuk menyampaikan kebutuhan;
bagaimana ia kembali terlibat setelah lebih tenang.
Anak yang lebih mudah menunjukkan emosi tidak otomatis memiliki perkembangan sosial-emosional yang lebih rendah.
Sebaliknya, anak yang jarang menangis juga belum tentu selalu mampu mengelola emosinya dengan baik.
Karena itu, label seperti:
cengeng;
nakal;
pemarah;
susah diatur;
tidak membantu kita memahami kebutuhan anak.
Lebih berguna bertanya,
“Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
Regulasi diri adalah kemampuan untuk mengelola perhatian, emosi, dan perilaku agar anak dapat tetap terlibat dalam situasi yang sedang dihadapi.
Pada usia dini, kemampuan ini masih berkembang dan sering membutuhkan bantuan orang dewasa.
Anak tidak serta-merta belajar menenangkan dirinya hanya karena diberi perintah,
“Jangan menangis.”
Ketika emosi anak sedang sangat kuat, ia biasanya lebih sulit menerima penjelasan panjang atau memikirkan solusi dengan tenang.
Orang dewasa dapat membantu prosesnya:
“Kamu marah. Kita duduk dulu. Ibu di sini.”
CDC juga menyarankan menyediakan tempat yang tenang saat anak sedang upset, sambil orang dewasa tetap berada dekat sehingga anak merasa aman dan dapat meminta bantuan untuk menenangkan diri.
Tujuan akhirnya bukan membuat anak berhenti menunjukkan emosi.
Tujuannya adalah membantu anak merasakan emosi tanpa harus dikuasai sepenuhnya oleh emosi tersebut.
Kegiatan untuk mendukung perkembangan sosial emosional anak usia 5-6 tahun tidak harus selalu berupa sesi khusus.
Banyak pengalaman sehari-hari dapat digunakan.
Permainan rumah-rumahan, dokter-dokteran, toko, sekolah, atau restoran memberi kesempatan anak mencoba berbagai peran sosial.
Ketika berpura-pura menjadi dokter, pasien, penjual, atau pembeli, anak belajar melihat situasi dari perspektif yang berbeda.
Jangan hanya bertanya,
“Siapa nama tokohnya?”
Tambahkan:
“Menurutmu dia merasa bagaimana?”
“Kenapa dia sedih?”
“Kalau kamu jadi dia, apa yang bisa dilakukan?”
Cerita memberi anak jarak yang aman untuk membicarakan emosi.
Board game sederhana, lempar bola, atau permainan kartu dapat menjadi pengalaman untuk belajar menunggu giliran dan menerima hasil.
Anak belajar bahwa permainan tetap dapat menyenangkan meskipun ia tidak selalu mendapat giliran pertama.
Membuat bangunan, kolase, kebun mini, atau proyek STEAM bersama memberi pengalaman nyata tentang kerja sama.
Guru tidak harus menghilangkan seluruh konflik.
Ketika perbedaan muncul, itulah kesempatan untuk membimbing.
Gunakan gambar wajah dengan beberapa emosi sederhana seperti:
senang, sedih, marah, takut, kecewa, atau bangga.
Anak dapat menunjuk gambar yang mendekati apa yang sedang ia rasakan.
Ini berguna terutama ketika ia belum mudah menjelaskan perasaan dengan kalimat panjang.
Berikan skenario sederhana:
“Temanmu mengambil pensil yang masih kamu pakai. Apa yang bisa kamu lakukan?”
Tujuannya bukan mencari satu jawaban benar.
Anak diajak memikirkan beberapa pilihan.
Merapikan meja, membagikan alat, menyiram tanaman, atau membantu mengembalikan buku memberi pengalaman menjadi bagian dari kelompok.
CDC juga memasukkan tugas rumah sederhana sebagai salah satu contoh milestone sosial-emosional pada usia 5 tahun.
Tempat tenang tidak perlu menjadi tempat hukuman.
Ia dapat berupa sudut kecil dengan bantal, buku, atau benda yang membantu anak kembali tenang.
Yang penting, anak memahami bahwa tempat tersebut tersedia untuk membantu dirinya mengelola emosi, bukan untuk mengasingkannya.
Saat emosi anak sedang sangat kuat, ia biasanya lebih sulit menerima penjelasan panjang.
Karena itu, fokus pertama adalah keamanan dan membantu anak kembali tenang.
Urutannya dapat dibayangkan sebagai:
aman → tenang → terhubung → baru dibicarakan
Urutan ini tidak harus selalu identik dalam setiap situasi, tetapi prinsipnya sama: keselamatan dan regulasi didahulukan sebelum penjelasan panjang.
Misalnya:
“Kamu marah karena mainannya diambil.”
“Aku tidak akan membiarkan kamu memukul.”
“Kita tenang dulu.”
Setelah anak lebih tenang:
“Tadi kamu marah. Kalau nanti mainannya masih kamu pakai, kamu bisa bilang apa?”
Di sinilah behavior guidance berbeda dengan sekadar menghentikan perilaku.
Tujuannya bukan hanya membuat perilaku yang tidak diinginkan berhenti.
Kita juga ingin membantu anak membangun keterampilan yang dapat digunakan pada kesempatan berikutnya.
Tidak selalu.
Berbagi adalah kemampuan sosial penting, tetapi konsepnya perlu realistis.
Jika seorang anak sedang menggunakan benda dan belum selesai, memaksanya langsung menyerahkan benda kepada orang lain tidak selalu mengajarkan berbagi.
Kadang yang lebih tepat adalah belajar bergiliran.
Misalnya:
“Kamu masih memakai ini. Setelah selesai, giliran Farhan.”
Dengan begitu, anak belajar dua hal sekaligus: kebutuhannya dihormati dan orang lain juga akan mendapat kesempatan.
Berbagi yang bermakna tumbuh melalui pengalaman sosial yang berulang, bukan hanya melalui paksaan sesaat.
Seorang anak diam ketika berada dalam kelompok besar.
Apakah itu berarti ia tidak mampu bersosialisasi?
Belum tentu.
Ia mungkin aktif berbicara ketika bersama satu atau dua teman.
Anak lain tampak sangat kooperatif di sekolah tetapi lebih mudah meledak di rumah.
Kedua konteks tersebut adalah informasi.
Karena itu, perkembangan sosial emosional anak usia 5-6 tahun tidak sebaiknya disimpulkan dari satu kejadian.
Guru dapat memperhatikan:
SK Impianku menetapkan asesmen autentik melalui observasi, catatan anekdot, dokumentasi karya, percakapan, portofolio, dan informasi keluarga. Perkembangan dibandingkan dengan titik awal anak sendiri, bukan dengan anak lain, dan satu kejadian tidak dijadikan dasar tunggal kesimpulan.
Informasi semacam ini membantu guru memahami apa yang sedang berkembang dan dukungan apa yang dibutuhkan berikutnya.
Dalam Delapan Profil Perkembangan Lulusan KB-RA IT Impianku, perkembangan sosial-emosional berhubungan erat dengan dua profil.
Anak secara bertahap belajar mengenali kebutuhan orang lain, berbagi, menunggu giliran, mendengarkan, berpartisipasi dalam kegiatan bersama, serta mulai menyelesaikan perbedaan dengan bimbingan.
Anak membangun kebiasaan sehat dan aman, mengenali kebutuhan tubuh serta emosinya, dan menggunakan cara yang aman untuk menenangkan diri.
Kedua profil tersebut bukan mata pelajaran yang berdiri sendiri.
Dalam SK Impianku, profil perkembangan ditumbuhkan secara holistik melalui bermain, rutinitas, ibadah, proyek, Montessori, Quranic STEAM, bahasa, dan kehidupan sehari-hari.
Karena itu, konflik kecil di kelas, menunggu giliran saat mencuci tangan, bekerja dalam kelompok, membantu teman, atau belajar meminta maaf dapat menjadi pengalaman perkembangan yang nyata.
Variasi dalam perkembangan sosial emosional anak usia 5-6 tahun cukup luas.
Anak yang lebih pendiam belum tentu mempunyai masalah.
Anak yang aktif dan sangat ekspresif juga belum tentu kurang mampu mengelola diri.
Namun jika orang tua mempunyai kekhawatiran yang menetap mengenai cara anak berinteraksi, mengelola emosi, berkomunikasi, atau menjalani kegiatan sehari-hari, sebaiknya kekhawatiran tersebut dibicarakan dengan tenaga kesehatan atau profesional perkembangan anak yang kompeten.
CDC juga menyarankan orang tua bertindak lebih awal ketika anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dimiliki atau terdapat kekhawatiran perkembangan lain.
Artikel ini bukan alat diagnosis.
Ia membantu orang tua mengetahui apa yang dapat diamati dan didiskusikan.
Tujuan perkembangan sosial-emosional bukan menghasilkan anak yang tidak pernah marah, tidak pernah kecewa, atau selalu menurut.
Anak tetap akan mengalami emosi yang kuat.
Ia akan berbeda pendapat.
Kadang ia sulit menunggu.
Kadang kata-kata yang dipilihnya belum tepat.
Yang sedang kita tumbuhkan adalah kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan, mengungkapkan kebutuhan dengan semakin baik, mempertimbangkan orang lain, serta kembali mengelola diri setelah situasi yang sulit.
Karena itu, pertanyaan yang lebih membantu bukan selalu,
“Kenapa kamu marah lagi?”
Kita dapat mencoba bertanya,
“Apa yang kamu rasakan, dan apa yang bisa kita lakukan sekarang?”
Perkembangan sosial-emosional adalah salah satu bagian dari perkembangan anak usia dini.
Untuk melihat perkembangan kognitif, bahasa, motorik, kemandirian, komunikasi, dan aspek lain secara lebih menyeluruh:
Perkembangan Anak Usia 5-6 Tahun
Untuk memahami bagaimana bermain membantu anak belajar bekerja sama dan menyelesaikan persoalan:
Belajar Sambil Bermain pada Anak Usia Dini
Dan untuk membaca bagian perkembangan berpikir yang sudah kita bahas secara khusus:
KB-RA IT Impianku berada di bawah pembinaan Kementerian Agama Republik Indonesia, menjadi bagian dari Jaringan Sekolah Islam Terpadu, dan komunitas profesional pendidikan anak usia dini internasional, serta memperoleh berbagai pengakuan atas inovasi dan dampak pendidikannya.






KB-RA IT Impianku adalah Global Islamic Preschool & Kindergarten di Kota Malang yang menumbuhkan anak beriman, beradab, mandiri, dan cerdas menghadapi zamannya.
Copyright © 2026 KB-RA IT Impianku. All Rights Reserved.