Program Kelompok Kelas A KB-RA IT Impianku dirancang untuk anak usia 4–5 tahun yang mulai memiliki rasa ingin tahu lebih besar, kemampuan berbahasa yang semakin berkembang, dan keinginan untuk melakukan lebih banyak hal secara mandiri.
Melalui tahfidz Juz 30, pembiasaan komunikasi bilingual Indonesia–Inggris, Montessori, Quranic STEAM, literasi-numerasi awal, seni, gerak, serta pendidikan iman dan adab, anak didampingi untuk mengamati, bertanya, mencoba, berkomunikasi, bekerja bersama, dan mencintai proses belajar.
Memasuki usia Kelompok A, dunia anak semakin dipenuhi pertanyaan. Mengapa hujan turun? Bagaimana biji dapat tumbuh? Mengapa benda tertentu mengapung, sedangkan benda lainnya tenggelam? Bagaimana sebuah bangunan dapat tetap berdiri?
Di Kelompok A KB-RA IT Impianku Malang, rasa ingin tahu tersebut tidak dihentikan dengan jawaban singkat atau diubah menjadi hafalan semata. Anak diberi kesempatan untuk mengamati, menyentuh, membandingkan, bertanya, mencoba, membuat, serta menceritakan kembali hal yang ditemukannya.
Pada saat yang sama, anak dibimbing mencintai Al-Qur’an melalui program tahfidz Juz 30 yang bertahap dan pembelajaran metode Ummi. Anak juga dibiasakan menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris dalam percakapan, rutinitas kelas, cerita, permainan, dan pengalaman belajar sehari-hari.
Semua kegiatan dilaksanakan dalam suasana bermain yang hangat dan sesuai perkembangan, sehingga anak memperoleh fondasi belajar yang kuat tanpa kehilangan kegembiraan masa kanak-kanaknya.
Ayat-ayat pendek tidak hanya diulang hingga diingat. Anak dibimbing mendengarkan bacaan yang benar, menirukan, melakukan murojaah, menjaga adab belajar, serta merasakan bahwa Al-Qur’an adalah bagian yang dekat dengan kehidupannya.
Bahasa Inggris juga tidak berhenti pada daftar nama warna, angka, atau benda. Anak mulai menggunakannya untuk menyapa, menjawab, meminta bantuan, mengikuti arahan, mengungkapkan perasaan, dan menceritakan pengalaman sederhana.
Hafalan bertumbuh menjadi kecintaan. Kosakata bertumbuh menjadi keberanian berkomunikasi.
Orang tua tidak hanya membutuhkan sekolah yang memberikan banyak kegiatan. Mereka membutuhkan lingkungan yang mampu membentuk hati, mengembangkan bahasa, menumbuhkan kemandirian, dan mengarahkan rasa ingin tahu anak menjadi pengalaman belajar yang bermakna.
Anak dibimbing membangun perjalanan hafalan Juz 30 melalui tahfidz bertahap, murojaah rutin, pembelajaran metode Ummi, doa, hadis, dan pembiasaan adab terhadap Al-Qur’an.
Guru tidak hanya memperhatikan banyaknya hafalan, tetapi juga kualitas proses, ketekunan, bacaan, adab, dan tumbuhnya kedekatan emosional anak dengan Al-Qur’an.
Bahasa Indonesia digunakan sebagai dasar untuk memahami gagasan, menyampaikan kebutuhan, dan mengungkapkan perasaan. Bahasa Inggris diperkenalkan secara alami melalui rutinitas kelas, cerita, lagu, permainan, Montessori, dan kegiatan eksplorasi.
Anak tidak hanya diminta mengetahui kosakata, tetapi diberi alasan dan kesempatan untuk menggunakan bahasa dalam situasi yang nyata.
Melalui Montessori dan Quranic STEM, anak menggunakan tangannya untuk memahami dunia. Anak mengelompokkan, membandingkan, menyusun, mengamati, mencoba berbagai cara, membuat karya, dan menceritakan hal yang ditemukannya.
Iman dan adab menjadi arah agar pengetahuan tidak hanya membuat anak semakin tahu, tetapi juga semakin bersyukur, bertanggung jawab, jujur, dan peduli.
Kelompok A di KB-RA IT Impianku tidak menggunakan sebuah pendekatan hanya sebatas teori. Setiap prinsip diterjemahkan menjadi lingkungan, kegiatan, interaksi, dan kebiasaan yang benar-benar dialami anak.
Pembelajaran dikembangkan dengan nilai Islam dan Kurikulum Berbasis Cinta, diperkaya prinsip Montessori usia 3–6 tahun, diarahkan oleh praktik sesuai perkembangan dari NAEYC, serta memiliki kekhasan Quranic STEAM Impianku.
Nilai Islam hadir dalam cara anak disambut, diajak berbicara, menggunakan alat, mengelola kesalahan, memperlakukan teman, menjaga lingkungan, dan menyelesaikan tanggung jawab.
Anak dibimbing menumbuhkan:
Adab tidak hanya dibicarakan. Adab dipraktikkan dalam kehidupan kelas setiap hari.
Lingkungan dan aktivitas disiapkan agar anak dapat melakukan lebih banyak hal secara mandiri. Material diletakkan secara teratur, mudah dijangkau, memiliki tujuan yang jelas, serta digunakan melalui pengalaman langsung.
Anak memperoleh kesempatan untuk:
Setiap anak memiliki kesiapan, karakter, pengalaman, minat, dan kecepatan perkembangan yang berbeda. Karena itu, kegiatan tidak hanya ditentukan oleh usia kelas, tetapi juga berdasarkan pengamatan terhadap kebutuhan masing-masing anak.
Penerapannya terlihat melalui:
Quranic STEAM mengajak anak mengamati ciptaan Allah, mengajukan pertanyaan, mencoba, membuat, bekerja bersama, dan menceritakan hasil pengalamannya.
Alur pengalaman belajar anak:
Mengamati → Bertanya → Mencoba → Membuat → Menceritakan → Merefleksikan
Kegiatan tidak dilakukan dengan sekadar menempelkan ayat pada eksperimen. Al-Qur’an ditempatkan sebagai kitab hidayah yang memberi arah nilai, sedangkan fenomena alam dipelajari melalui pengamatan dan pengalaman yang sesuai usia.
Anak dibiasakan mengembangkan:
Program tahfidz Kelompok A merupakan awal perjalanan berjenjang menuju hafalan Juz 30. Anak dibimbing melalui mendengarkan bacaan yang benar, menirukan ayat, menghafal sedikit demi sedikit, dan melakukan murojaah secara konsisten.
Proses tersebut dilaksanakan dengan memperhatikan kesiapan, kemampuan, dan ritme belajar setiap anak. Guru tidak hanya mengejar banyaknya surat yang dihafalkan, tetapi juga menumbuhkan kecintaan kepada Al-Qur’an, adab saat belajar, ketekunan, dan kebiasaan menjaga hafalan.
Program bilingual Kelompok A menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris sebagai sarana berinteraksi, memahami pengalaman, menyampaikan kebutuhan, serta membangun keberanian berkomunikasi.
Bahasa Indonesia tetap menjadi fondasi pemahaman konsep, komunikasi emosional, dan pengembangan gagasan. Bahasa Inggris diperkenalkan secara bertahap melalui konteks yang dapat dilihat, didengar, dilakukan, dan dialami anak.
Anak dibiasakan menggunakan ungkapan sederhana
Bahasa Inggris digunakan dalam konteks penyambutan; menyimpan barang; memilih kegiatan; meminta bantuan; antre dan bergiliran;dll.
Anak mendengarkan cerita sederhana, melihat gambar, mengikuti gerakan, bernyanyi, dan menjawab pertanyaan berdasarkan konteks yang dipahami.
Bahasa digunakan saat anak mengenal warna; bentuk; ukuran; posisi; jumlah; tekstur; dll
Anak mengenal dan menggunakan kosakata berdasarkan pengalaman, seperti: float & sink; light & dark; seed & plant; big & small, dll
Anak diberi kesempatan menunjukkan benda, karya, atau pengalaman dan menyampaikan satu atau beberapa kalimat sesuai kesiapan dirinya.