Belajar Sambil Bermain pada Anak Usia Dini

Manfaat, Contoh, dan Cara yang Tepat

Picture of Tim Editorial Impianku
Tim Editorial Impianku
anak belajar sambil bermain dengan balok di luar kelas

“Tadi di sekolah belajar apa?”

“Main balok.”

“Terus?”

“Main pasir. Sama main toko-tokoan sama teman.”

Bagi seorang anak, jawaban itu mungkin sudah lengkap. Namun bagi sebagian orang tua, muncul pertanyaan lain: kalau sebagian waktunya digunakan untuk bermain, kapan sebenarnya anak belajar?

Pertanyaan itu wajar. Banyak dari kita tumbuh dengan gambaran bahwa belajar berarti duduk, mendengarkan guru, membuka buku, mengerjakan sesuatu, lalu pulang membawa hasil yang bisa dilihat.

Pada anak usia dini, proses belajar tidak selalu tampak seperti itu.

Seorang anak mencoba membuat menara. Roboh. Ia memandang susunannya sebentar, mengganti balok paling bawah dengan yang lebih lebar, lalu memulai kembali.

Di sudut lain, dua anak membuka “toko”. Mereka menentukan siapa yang menjadi penjual, memilih barang, membuat uang dari potongan kertas, lalu berselisih karena keduanya ingin menjadi kasir.

Anak lain menuangkan air dari gelas kecil ke botol. Sebagian tumpah. Ia menggeser corong, mengubah posisi tangannya, dan mencoba lagi.

Dari luar, mereka sedang bermain.

Namun di dalam pengalaman itu, anak dapat sedang mengamati, membandingkan, berkomunikasi, memperkirakan, berunding, menghadapi kekecewaan, membuat keputusan, lalu mengubah cara ketika percobaan pertama belum berhasil.

Di situlah percakapan tentang belajar sambil bermain sebaiknya dimulai.

Belajar sambil bermain adalah proses ketika anak membangun pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman melalui pengalaman bermain yang aktif dan sesuai tahap perkembangannya. Dalam pendidikan anak usia dini, bermain dapat muncul atas inisiatif anak, dipandu oleh guru dengan tujuan tertentu, atau menjadi bagian dari kegiatan yang lebih terstruktur. Yang penting bukan sekadar apakah anak sedang “bermain”, melainkan apa yang ia amati, coba, pikirkan, komunikasikan, dan pahami selama proses tersebut.

Publikasi Young Children Summer 2025 menggambarkan kurikulum anak usia dini yang berkualitas sebagai kurikulum yang menggabungkan bermain dan interaksi positif, responsif terhadap setiap anak, serta dijalankan dengan tujuan yang bermakna, intentionality, dan fleksibilitas dari pendidik.

Masalahnya kemudian bukan memilih antara bermain atau belajar.

Kita perlu melihat apa yang sebenarnya terjadi ketika anak bermain.

Apa yang Dimaksud dengan Belajar Sambil Bermain?

Bayangkan seorang anak mendapat beberapa balok kayu.

Orang dewasa mungkin melihat sepuluh balok dengan bentuk berbeda. Anak dapat melihat rumah, jembatan, garasi, roket, kandang dinosaurus, atau menara yang harus dibuat setinggi mungkin.

Ia mulai menyusun.

Bangunannya roboh.

Anak melihat sejenak, kemudian menggunakan balok yang lebih lebar sebagai alas.

Belum tentu ada instruksi dari guru. Tidak ada soal tertulis. Tetapi anak baru saja bertemu sebuah masalah, melihat akibat dari tindakannya, mengubah strategi, dan mencoba kemungkinan lain.

Karena itu, belajar sambil bermain pada anak usia dini kurang tepat bila dipahami hanya sebagai cara menyamarkan “pelajaran serius” agar terasa menyenangkan.

Bagi anak kecil, pengalaman konkret sering membantu sebuah konsep memperoleh makna. Anak menyentuh, memindahkan, berbicara, mencoba, mendengar tanggapan orang lain, lalu menemukan hubungan antara tindakannya dan apa yang terjadi setelahnya.

Hasil belajar pun tidak selalu berbentuk sesuatu yang bisa dibawa pulang.

Kadang perubahan terlihat dari hal kecil: anak lebih lama bertahan ketika menghadapi kesulitan, mulai berani meminta bantuan, menemukan kata baru, mampu menunggu sedikit lebih lama, atau menyadari bahwa satu masalah dapat mempunyai beberapa jalan keluar.

Itulah sebabnya proses sering sama pentingnya dengan produk.

Belajar Sambil Bermain atau Bermain Sambil Belajar: Mana yang Benar?

Kedua istilah tersebut sering digunakan bergantian.

Ada yang lebih menyukai istilah belajar sambil bermain karena ingin menegaskan adanya proses pembelajaran. Ada pula yang memakai “bermain sambil belajar” untuk menekankan bahwa permainan anak dapat membuka berbagai pengalaman belajar.

Bagi anak, urutan dua kata tersebut tidak banyak mengubah apa yang ia alami.

Yang lebih penting justru bagaimana pengalaman itu berlangsung.

Seberapa besar ruang bagi anak untuk memilih? Apa yang sedang ia coba pahami? Apakah guru mempunyai tujuan tertentu? Bagaimana orang dewasa merespons ketika permainan berubah arah?

Ada saat anak memilih sendiri bahan, teman, cerita, dan cara bermain.

Ada saat guru menata lingkungan atau memilih material tertentu karena ingin membuka kemungkinan belajar.

Ada pula saat guru memang perlu memimpin dengan lebih jelas.

Ketiganya dapat memiliki tempat dalam pendidikan anak usia dini.

Karena itu, kualitas belajar sambil bermain tidak ditentukan oleh istilah yang digunakan, melainkan oleh kesesuaian kegiatan dengan perkembangan anak, keterlibatan aktifnya, tujuan yang masuk akal, serta keputusan orang dewasa tentang kapan perlu masuk dan kapan perlu memberi ruang.

Mengapa Anak Usia Dini Banyak Belajar Melalui Bermain?

Anak kecil tidak memahami dunia hanya dengan mendengarkan penjelasan tentang dunia.

Mereka juga perlu berhubungan langsung dengan benda, ruang, gerak, bahasa, manusia, dan peristiwa di sekitarnya.

Kata “berat” menjadi lebih bermakna ketika anak mengangkat dua benda yang berbeda.

“Penuh” dan “kosong” terasa nyata ketika air dituangkan.

“Lebih panjang” mudah dipahami ketika dua benda diletakkan berdampingan.

Hal yang sama berlaku untuk pengalaman sosial.

Konsep menunggu giliran bukan hanya sesuatu yang dikatakan orang dewasa. Anak mengalaminya ketika benda yang ia inginkan sedang dipakai temannya.

Menghadapi kekecewaan pun tidak dipelajari hanya dari nasihat. Anak berlatih ketika bangunannya roboh atau ketika permainan tidak berjalan sesuai keinginannya.

Dalam Young Children Summer 2025, pengalaman yang konkret, bermakna, multisensori, dan responsif terhadap minat serta kekuatan anak menjadi bagian penting dalam pembahasan tentang kurikulum yang efektif.

Salah satu kekuatan belajar sambil bermain adalah banyak aspek perkembangan dapat bertemu dalam satu peristiwa.

Ketika bermain restoran, seorang anak dapat mengingat urutan, berbicara dengan temannya, menggunakan benda sebagai simbol, menghitung, mengambil peran, mengubah rencana, dan menyesuaikan diri dengan gagasan orang lain.

Bagi anak, itu semua adalah satu pengalaman.

Orang dewasa yang kemudian melihat bahwa di dalamnya ada bahasa, penalaran, keterampilan sosial, numerasi awal, kreativitas, dan pengelolaan diri.

Apa yang Sebenarnya Dipelajari Anak Saat Bermain?

Kembali pada menara balok tadi.

Bangunannya roboh untuk ketiga kalinya.

Satu anak mungkin meninggalkannya. Anak lain mencoba lagi. Ada yang meminta bantuan. Ada pula yang melihat bangunan temannya sebelum mengubah cara.

Satu permainan dapat memberi pengalaman yang berbeda bagi setiap anak.

Bernalar dan Memecahkan Masalah

Saat sesuatu tidak bekerja seperti yang diharapkan, anak bertemu masalah nyata.

Ia melihat hasil, mencoba memahami penyebab, lalu mengubah strategi.

Pada pengalaman seperti ini, anak dapat mulai mengembangkan kebiasaan mengamati, memperkirakan, mencoba, dan mengevaluasi apa yang terjadi.

Bahasa dan Komunikasi

Bermain bersama memberi alasan alami untuk menggunakan bahasa.

“Aku jadi penjual.”

“Yang ini jangan dipindah.”

“Ayo pintunya di sini.”

Bahasa hadir karena anak membutuhkan cara untuk menjelaskan ide, menyampaikan keberatan, bertanya, dan memahami maksud orang lain.

Sosial dan Emosional

Dua anak ingin menjadi kasir.

Permainan berhenti.

Salah satunya mulai marah.

Guru tidak selalu perlu segera menentukan siapa yang mendapat peran tersebut. Ia dapat membantu keduanya memikirkan kemungkinan: bergantian, membuat dua kasir, atau menemukan peran lain yang sama menariknya.

Kelas nyata memang tidak selalu tenang.

Justru dari ketidaksempurnaan itulah anak perlahan belajar berunding, menghadapi frustrasi, menunggu, dan mempertimbangkan orang lain.

Kreativitas, Motorik, dan Kemandirian

Balok dapat berubah menjadi telepon. Kain menjadi sungai. Kardus menjadi bus.

Sambil bermain, anak juga membawa, menarik, menuang, meronce, menyusun, menggunting, memilih, mencoba sendiri, meminta bantuan, dan membereskan kembali.

Dalam belajar sambil bermain, aspek-aspek perkembangan tersebut tidak harus muncul sebagai pelajaran yang terpisah.

Anak mengalaminya secara lebih utuh.

Apakah Semua Permainan Otomatis Menjadi Pembelajaran?

Anak dapat belajar banyak dari permainan yang tumbuh spontan.

Namun itu berbeda dari mengatakan bahwa setiap permainan harus diberi target belajar oleh orang dewasa.

Tidak setiap kali anak bermain kita perlu bertanya:

“Warnanya apa?”

“Berapa jumlahnya?”

“Itu bentuk apa?”

Bayangkan seorang anak sedang membuat jalan panjang dari balok. Ia mempunyai gagasan sendiri dan sedang mencoba mewujudkannya.

Jika setiap beberapa detik orang dewasa masuk dengan pertanyaan yang tidak berkaitan dengan pikirannya, alur permainan dapat terputus.

Ada nilai ketika anak mempunyai kesempatan memimpin.

Ia mencoba sesuatu karena ingin tahu, membangun cerita karena imajinasinya sedang bekerja, atau mengulang tindakan tertentu karena masih mencoba memahami apa yang terjadi.

Dalam konteks sekolah, guru tetap bertanggung jawab terhadap perkembangan dan tujuan pembelajaran. Tetapi intentional teaching tidak berarti mengambil kendali atas setiap detik permainan.

Kadang guru bertanya. Kadang menambahkan material. Kadang memberi bantuan.

Pada kesempatan lain, guru melihat bahwa anak masih mampu melanjutkan sendiri dan memilih menunggu.

Belajar sambil bermain tidak perlu berubah menjadi usaha memasukkan soal ke setiap permainan.

Tujuan pembelajaran dan pilihan anak dapat hadir bersama.

Bermain atas Inisiatif Anak, Guided Play, dan Aktivitas Terstruktur: Apa Bedanya?

Semua aktivitas bermain tidak mempunyai kadar keterlibatan orang dewasa yang sama.

Bermain atas Inisiatif Anak

Pada permainan yang tumbuh dari inisiatif anak, anak mempunyai ruang besar untuk menentukan apa yang dilakukan dan ke mana permainan berkembang. Guru tetap berada di dekatnya. Ia menjaga keamanan, mengamati, mendengarkan, dan merespons ketika diperlukan. Momen seperti ini juga memberi guru kesempatan melihat minat, bahasa, cara berpikir, dan strategi sosial anak dalam situasi yang relatif alami.

Guided Play

Guided play memiliki karakter berbeda. Kegiatan direncanakan secara sengaja oleh guru dan mempunyai tujuan belajar tertentu, tetapi anak tetap memiliki pilihan dalam cara ia terlibat dan menjalankan aktivitas. Dalam Planning for Guided Play: A Step-by-Step Guide, pendidik diarahkan untuk menyiapkan pengalaman dengan learning goals yang jelas, memilih material yang mendukung tujuan tersebut, menggunakan pertanyaan terbuka, memberi scaffolding sesuai kebutuhan, serta mengamati apa yang dilakukan anak. Jadi guided play bukan worksheet yang “disamarkan” menjadi permainan. Anak masih mempunyai ruang untuk mencoba, melakukan kesalahan, mengubah cara, dan menemukan solusi. Misalnya guru ingin membuka pengalaman tentang kestabilan. Ia tidak harus berkata: “Sekarang semua membuat jembatan seperti punya Bu Guru.” Ia dapat menyediakan balok dengan ukuran berbeda, sebuah boneka, lalu mengatakan: “Boneka ini ingin menyeberang. Kira-kira kita bisa membuat apa?” Tujuannya jelas. Solusinya belum ditentukan. Itulah salah satu bentuk belajar sambil bermain yang dipandu dengan sengaja.

Aktivitas yang Lebih Terstruktur

Ada saat tertentu ketika peran guru memang perlu lebih besar. Guru dapat menunjukkan cara menggunakan alat dengan aman, memimpin talaqqi, mencontohkan gerakan ibadah, memperkenalkan teknik baru, atau memandu kegiatan kelompok. Kegiatan terstruktur tidak otomatis buruk karena guru lebih dominan. Begitu pula bermain bebas tidak otomatis menjadi pilihan terbaik untuk setiap tujuan. Pertanyaan yang lebih berguna adalah: apa yang sedang dibutuhkan anak, apa tujuan pengalaman itu, dan seberapa banyak dukungan orang dewasa yang tepat?

Apa yang Dilakukan Guru Ketika Anak Sedang Bermain?

Ungkapan “guru adalah fasilitator” terlalu pendek untuk menjelaskan pekerjaan yang sebenarnya.

Bayangkan tiga anak sedang bermain air.

Satu anak terus memindahkan air dari gelas kecil ke botol besar. Anak lain mulai membandingkan tinggi air. Temannya lebih tertarik membuat cipratan.

Guru tidak harus membuat ketiganya melakukan hal yang sama.

Ia memperhatikan lebih dahulu.

Setelah beberapa saat, mungkin ia menambahkan corong. Kepada salah satu anak ia bertanya, “Menurutmu wadah mana yang lebih cepat penuh?”

Lalu anak mencoba.

Di sinilah intentionality terlihat.

Young Children Summer 2026 membahas educator agency sebagai kemampuan profesional guru untuk membuat keputusan pembelajaran yang disengaja dan responsif terhadap kebutuhan, pengalaman, identitas, dan konteks anak.

Dalam artikel When Squirrels Lead the Way, ketertarikan anak terhadap tupai berkembang menjadi rangkaian pengalaman membaca, observasi luar ruang, menulis interaktif, menggambar, percakapan, hingga eksplorasi STEM. Guru mengikuti pertanyaan anak tanpa kehilangan learning goals yang ingin dicapai.

Maka peran guru dalam belajar sambil bermain jauh lebih kaya daripada sekadar menyediakan mainan.

Guru dapat menyiapkan lingkungan, memilih material, mengamati, bertanya, memberikan bantuan, mencatat perkembangan, dan menggunakan temuannya untuk memikirkan pengalaman berikutnya.

Ada pula satu keterampilan yang jarang terlihat dari luar: mengetahui kapan intervensi belum diperlukan.

Kadang keputusan profesional terbaik adalah memberi anak waktu.

Ingin melihat bagaimana prinsip ini diterapkan dalam keseharian kelas? Baca Cara Anak Belajar di TK Impianku.

Contoh Belajar Sambil Bermain untuk Anak TK dan PAUD

Tidak diperlukan puluhan ide untuk melihat bagaimana permainan sederhana dapat membuka pengalaman yang kaya.

1. Membangun dengan Balok

Anak membuat rumah, jembatan, menara, atau bentuk berdasarkan gagasannya.

Ketika konstruksi gagal, orang dewasa tidak harus segera memperbaiki.

“Bagian mana yang ingin kamu ubah?”

Satu pertanyaan itu dapat membantu anak melanjutkan pikirannya sendiri.

2. Bermain Toko-Tokoan

Anak memilih peran, mengatur barang, menggunakan simbol sebagai uang, berkomunikasi dengan teman, dan membuat aturan permainan.

Jika dua anak sama-sama ingin menjadi kasir, konflik kecil tersebut dapat menjadi bagian dari proses sosial.

3. Air dan Berbagai Wadah

Wadah tinggi, pendek, lebar, sempit, sendok, botol, serta corong dapat membuka pengalaman tentang isi, perbandingan, sebab-akibat, dan perkiraan.

Dalam belajar sambil bermain, orang dewasa tidak harus mengajukan banyak pertanyaan.

“Menurutmu yang mana lebih cepat penuh?” bisa sudah cukup.

4. Loose Parts

Potongan kayu, gulungan karton, kain, batu bersih, atau material terbuka lainnya tidak mempunyai satu hasil yang benar.

Hari ini sebuah potongan kayu menjadi jembatan.

Besok mungkin menjadi pesawat.

Anak mempunyai kesempatan mengubah material sesuai gagasannya.

5. Membuat dan Memainkan Cerita

Seorang anak bercerita tentang seekor kucing yang kehilangan rumah.

Temannya menjadi kucing. Kursi menjadi rumah. Anak lain masuk dan menambahkan tokoh baru.

Alur cerita berubah.

Di sana bahasa, imajinasi, urutan, kemampuan mendengar, negosiasi, dan kerja sama bertemu secara alami.

6. Menjelajah Alam

Daun berlubang, ranting, batu, tanah, air, atau serangga sering menimbulkan pertanyaan yang tidak direncanakan.

“Kenapa daun ini beda?”

Orang dewasa tidak harus segera memberikan jawaban lengkap.

“Menurutmu kenapa?”

Kadang pertanyaan balik sederhana cukup untuk menjaga rasa ingin tahu.

Pembelajaran STEAM untuk Anak Usia Dini

Bagaimana Orang Tua Mendampingi Anak Bermain di Rumah?

Belajar sambil bermain di rumah tidak membutuhkan lemari penuh mainan berlabel “educational”.

Kotak bekas, sendok, gelas plastik, bantal, kain, kardus, kertas, air, atau bahan alam yang aman dapat menjadi bahan bermain.

Yang lebih sulit sering kali bukan menyediakan benda.

Tantangannya adalah menahan diri untuk tidak selalu menentukan apa yang harus dibuat anak.

Jika susunannya terlihat “salah”, belum tentu ia membutuhkan koreksi.

Perhatikan dahulu apa yang sedang dicoba.

Ketika anak kesulitan, beri beberapa detik sebelum membantu. Jika ia masih mencoba, berikan kesempatan. Jika ia meminta bantuan, bantu secukupnya agar ia tetap dapat mengambil bagian dalam penyelesaian masalah.

Pertanyaan juga tidak harus terasa seperti tes.

Daripada selalu:

“Ini warna apa?”

orang tua dapat mencoba:

“Kamu sedang membuat apa?”

“Bagian mana yang paling sulit?”

“Apa yang mau kamu coba setelah ini?”

Dalam belajar sambil bermain, pertanyaan yang baik sering kali bukan pertanyaan yang mencari satu jawaban benar.

Ia membuka ruang agar anak menceritakan pikirannya.

Kapan Sebaiknya Membantu, dan Kapan Menunggu?

Seorang anak mencoba membuka sebuah kotak.

Tidak berhasil.

Ia memutar kotak itu, mengubah posisi jari, lalu mencoba lagi.

Terdengar bunyi kecil.

Klik.

Kotaknya terbuka.

“Aku bisa!”

Tidak setiap kesulitan perlu dibiarkan. Ada saat anak membutuhkan perlindungan, demonstrasi, bantuan fisik, informasi, atau dukungan emosional.

Namun bantuan tidak selalu berarti mengambil alih.

Kadang dukungan terbaik adalah memberi cukup waktu agar anak menemukan bahwa dirinya masih mampu mencoba satu kemungkinan lagi.

Prinsip sederhana ini juga penting dalam belajar sambil bermain: kita tidak selalu perlu menyelesaikan masalah sebelum anak sempat menghadapinya.

“Bermain dengan Tujuan” di TK Impianku

Di KB-RA IT Impianku, gagasan “Bermain dengan Tujuan” membantu kami menjelaskan bahwa pengalaman belajar anak tidak dinilai hanya dari karya yang bisa dibawa pulang.

Sebuah kegiatan dapat terlihat sederhana dari luar, tetapi proses anak memberi guru banyak informasi.

Ketika bangunannya roboh, apa yang ia lakukan?

Ketika cara pertama belum berhasil, apakah ia mencari kemungkinan lain?

Ketika temannya mempunyai ide berbeda, bagaimana ia merespons?

Pengamatan seperti ini berkaitan dengan arah Delapan Profil Perkembangan Lulusan Impianku. Profil Ingin Tahu dan Bernalar mencakup rasa ingin tahu, bertanya, mengamati, membandingkan, memperkirakan, menghubungkan sebab-akibat sederhana, serta mencoba menyelesaikan masalah. Profil Kreatif dan Solutif memberi perhatian pada imajinasi, ekspresi gagasan, karya, dan upaya mencari alternatif ketika cara pertama belum berhasil.

Pengalaman bermain bersama juga dapat memperlihatkan proses menuju Peduli dan Kolaboratif serta Komunikatif dan Percaya Diri.

Profil-profil tersebut tidak diajarkan sebagai delapan mata pelajaran tersendiri. Dokumen resmi Impianku menetapkan implementasinya secara holistik dan kontekstual melalui bermain, rutinitas, ibadah, proyek, kegiatan Montessori, Quranic STEAM, bahasa, dan pengalaman kehidupan nyata.

Di sinilah pendidikan Islam memberi arah.

Kebebasan anak bukan berarti tanpa batas. Kemandirian tumbuh bersama tanggung jawab. Bermain bersama teman juga menjadi ruang belajar adab: mendengar, menunggu, meminta dengan baik, memperbaiki kesalahan, dan menghormati orang lain.

Iman memberi arah. Ilmu perkembangan anak membantu kita memilih cara.

Delapan Profil Perkembangan Lulusan juga tidak digunakan sebagai syarat lulus atau gagal. Setiap anak dilihat dengan mempertimbangkan usia, kebutuhan, keunikan, kondisi, serta titik awal perkembangannya.

Asesmen dilakukan secara autentik melalui observasi, catatan anekdot, percakapan, dokumentasi karya, portofolio, dan informasi keluarga. Perkembangan anak dibandingkan dengan titik awal dirinya sendiri, bukan dengan anak lain.

Itulah sebabnya belajar sambil bermain di TK Impianku bukan persoalan membuat sebanyak mungkin permainan.

Yang lebih penting adalah memahami anak yang sedang berada di dalam permainan itu.

Kenali 8 Profil Perkembangan Lulusan KB-RA IT Impianku

Jadi, Ketika Anak Berkata “Hari Ini Aku Bermain…”

Besok mungkin percakapan yang sama terjadi lagi.

“Tadi di sekolah belajar apa?”

“Main.”

Kali ini, mungkin jawaban tersebut terdengar sedikit berbeda bagi kita.

Di balik permainan itu bisa saja ada jembatan yang roboh berkali-kali sebelum akhirnya berdiri. Ada perbedaan pendapat dengan teman yang akhirnya menemukan jalan keluar. Ada pertanyaan yang belum memiliki jawaban. Ada ide baru yang kemarin belum terpikirkan.

Maka pertanyaan berikutnya mungkin tidak lagi:

“Belajarnya kapan?”

Cobalah bertanya:

“Apa yang kamu temukan hari ini?”

Kadang dari jawaban itulah kita mulai melihat bahwa bermain bukan waktu kosong bagi anak.

Ia sedang mencoba memahami dunia.

Sedang mencari TK Islam di Malang yang memperhatikan proses perkembangan anak secara utuh?

Kenali bagaimana pembelajaran, adab, Al-Qur’an, Montessori, STEAM, dan pengalaman sehari-hari anak dikembangkan di KB-RA IT Impianku Malang.

Pelajari: Cara Belajar Anak di Impianku Global Islamic Preschool & Kindergarten Malang

Referensi:

  • Bhansali, M., Bizon, A., & Mei, E. (2025). Planning for Guided Play: A Step-by-Step Guide. Young Children, Volume 80 No. 2, National Association for the Education of Young Children.
  • Moses, A. (2025). Effective Curriculum: Designing and Implementing Meaningful Learning for Every Child. Young Children, Volume 80 No. 2, National Association for the Education of Young Children.
  • Surian, J. (2026). When Squirrels Lead the Way: Weaving Intention into Teachable Moments. Young Children, Volume 81 No. 2, National Association for the Education of Young Children.
  • Yayasan Harapanku. (2026). SK Ketua Yayasan Harapanku Nomor 015/SK/YH/VII/2026 tentang Penetapan Delapan Profil Perkembangan Lulusan KB-RA IT Impianku.

 

Afiliasi

KB-RA IT Impianku berada di bawah pembinaan Kementerian Agama Republik Indonesia, menjadi bagian dari Jaringan Sekolah Islam Terpadu, dan komunitas profesional pendidikan anak usia dini internasional, serta memperoleh berbagai pengakuan atas inovasi dan dampak pendidikannya.

madrasah kemenag
anggota jsit
anggota dari global school alliance
kb-ra it impianku anggota dari naeyc

Copyright © 2026 KB-RA IT Impianku. All Rights Reserved.