Program TK B Islam di Malang di KB-RA IT Impianku dirancang untuk mendampingi anak pada salah satu fase penting sebelum memasuki pendidikan dasar. Pada tahap ini, anak tidak hanya membutuhkan lebih banyak pengetahuan. Ia membutuhkan fondasi yang membuatnya siap mendengarkan, bertanya, menyampaikan gagasan, mengelola emosi, menyelesaikan tanggung jawab, dan mencoba kembali ketika menghadapi kesulitan.
Di dalam lingkungan yang hangat dan sesuai perkembangan anak, Ananda tetap belajar melalui permainan, percakapan, cerita, gerak, seni, benda konkret, eksplorasi, dan proyek sederhana. Karena kami percaya, kesiapan menuju sekolah dasar tidak perlu dibangun dengan mengambil lebih cepat indahnya masa kanak-kanak.
Tahfidz Juz 30, bilingual Indonesia–Inggris, Montessori, Quranic STEAM, serta fondasi literasi-numerasi yang dirangkai untuk membantu anak melangkah menuju SD/MI dengan iman, percaya diri, dan kecintaan terhadap belajar.
Memasuki TK B, wajar apabila Ayah dan Bunda mulai memikirkan kesiapan Ananda menuju SD atau MI. Muncul pertanyaan tentang membaca, menulis, berhitung, konsentrasi, kemandirian, bahkan kemampuan mengikuti pelajaran pada jenjang berikutnya.
Namun, siap memasuki sekolah dasar tidak sama dengan belajar seperti anak sekolah dasar lebih awal.
Kesiapan belajar juga tampak ketika anak mampu mendengarkan arahan, mengelola barangnya, menunggu giliran, mengungkapkan kebutuhan, meminta bantuan dengan tepat, bekerja bersama, menghadapi kesalahan, dan menyelesaikan kegiatan yang telah dimulai.
Anak yang siap belajar bukanlah anak yang telah mengetahui semua jawaban.
Ia adalah anak yang memiliki keberanian untuk bertanya, ketekunan untuk mengikuti proses, kemampuan untuk mengelola dirinya, dan kemauan untuk mencoba kembali ketika cara pertama belum berhasil.
Karena itu, pembelajaran di Kelompok B KB-RA IT Impianku tidak dibangun melalui tekanan akademik. Anak memperoleh tantangan yang semakin berkembang, tetapi tetap melalui cara belajar yang menghargai kebutuhan, kesiapan, pengalaman, dan keunikan masing-masing.
Pelajaran TK B tidak kami tempatkan sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri dan terpisah dari kehidupan anak. Berbagai kemampuan dikembangkan secara terpadu melalui bermain, pembiasaan, percakapan, ibadah, proyek, kegiatan Montessori, Quranic STEAM, seni, gerak, dan pengalaman nyata.
Gunakan delapan kotak berikut.
Ananda dibimbing mengenal Allah sebagai Pencipta, mencintai Al-Qur’an, membiasakan doa dan ibadah sesuai usia, serta mempraktikkan adab ketika berbicara, makan, belajar, menggunakan barang, menjaga lingkungan, dan berinteraksi dengan orang lain.
Nilai Islam tidak hanya disampaikan ketika kegiatan keagamaan berlangsung. Iman dan adab hadir sebagai arah ketika anak bekerja, bermain, menghadapi perbedaan, membuat pilihan, melakukan kesalahan, dan memperbaiki tindakannya.
Ananda melanjutkan perjalanan tahfidz Juz 30 melalui hafalan bertahap, murojaah rutin, setoran hafalan, pembelajaran Al-Qur’an dengan Metode Ummi, dan pembiasaan adab terhadap kalam Allah.
Anak yang telah menyelesaikan target utama dan menunjukkan kesiapan dapat memperoleh pendampingan untuk melanjutkan hafalan berikutnya sesuai capaian individualnya.
Target menjadi arah pembelajaran, bukan alat untuk membandingkan satu anak dengan anak lainnya. Fokusnya bukan hanya jumlah surat yang dihafalkan, tetapi juga kualitas proses, ketekunan, pelafalan, keberanian, adab, dan tanggung jawab menjaga hafalan.
Bahasa digunakan agar anak mampu terhubung dengan orang lain, bukan sekadar menghafalkan daftar kosakata.
Dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, Ananda memperoleh kesempatan untuk:
Penggunaan Bahasa Inggris diberikan secara kontekstual dan disesuaikan dengan kesiapan anak. Tujuannya bukan memaksa semua anak mencapai kemampuan yang sama, tetapi menumbuhkan keberanian menggunakan bahasa dalam situasi yang bermakna.
Belajar membaca anak TK B tidak dimulai dengan tekanan untuk menyelesaikan sebanyak mungkin lembar latihan.
Literasi ditumbuhkan melalui cerita, percakapan, permainan bunyi, pengenalan simbol dan huruf, membaca nama, menghubungkan gambar dengan kata, mengamati tulisan di lingkungan, membuat pesan sederhana, dan mengekspresikan gagasan melalui gambar maupun tulisan awal.
Anak dibantu memahami bahwa tulisan membawa makna. Dari pemahaman tersebut, ketertarikan membaca dan menulis dapat bertumbuh dengan lebih alami.
Materi matematika anak TK B dikembangkan melalui benda dan persoalan yang dapat dilihat, disentuh, dipindahkan, dikelompokkan, dibandingkan, dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Ananda belajar mengenali jumlah, pola, ukuran, bentuk, posisi, urutan, pengelompokan, penjumlahan, dan pengurangan sederhana melalui permainan, material konkret, kegiatan memasak, konstruksi, pengukuran, serta pemecahan masalah.
Anak tidak hanya diarahkan menemukan jawaban. Ia juga diajak menjelaskan bagaimana jawaban tersebut diperoleh.
Melalui Quranic STEAM, Ananda mengamati ciptaan Allah, mengajukan pertanyaan, memperkirakan hasil, membuat rancangan, mencoba, menguji, membandingkan, memperbaiki, dan mengomunikasikan temuannya.
Sains, teknologi, engineering, seni, dan matematika hadir secara terpadu dalam pengalaman yang sesuai usia.
Anak belajar bahwa hasil pertama tidak selalu langsung berhasil. Ketika bangunan runtuh, air mengalir ke arah yang tidak diperkirakan, atau rancangan belum dapat digunakan, anak didampingi untuk melihat kembali prosesnya dan mencoba kemungkinan lain.
Kejujuran, keselamatan, tanggung jawab, rasa syukur, dan kemaslahatan menjadi bagian dari cara anak melakukan eksplorasi.
Pendekatan Montessori yang diadaptasi membantu anak membangun konsentrasi, koordinasi, keteraturan, ketelitian, kemandirian, dan tanggung jawab.
Ananda memperoleh kesempatan untuk memilih dalam batas yang jelas, mengambil dan mengembalikan alat, mengikuti urutan kerja, merawat barang, membersihkan area kegiatan, menyelesaikan tugas, serta meminta bantuan ketika benar-benar diperlukan.
Kegiatan kehidupan sehari-hari membantu anak memahami bahwa dirinya mampu melakukan banyak hal secara bertahap.
Ananda belajar mengenali perasaan, menyampaikan ketidaknyamanan secara aman, menunggu giliran, memahami sudut pandang orang lain, menyelesaikan perbedaan dengan bimbingan, dan bekerja dalam kelompok.
Gerak, permainan fisik, musik, seni rupa, bermain peran, dan aktivitas kreatif menjadi bagian penting dalam perkembangan tubuh, imajinasi, komunikasi, serta kemampuan mengelola diri.
Karena anak yang siap belajar membutuhkan tubuh yang aktif, emosi yang semakin terkelola, dan lingkungan yang memberinya ruang untuk berekspresi.
Pada Kelompok B, anak tidak hanya melanjutkan hafalan. Ia mulai didampingi untuk membangun konsistensi murojaah, memperhatikan urutan ayat, berani menyetorkan hafalan, menyadari kekeliruan, dan mencoba memperbaiki bacaannya.
Kemandirian menjaga hafalan tumbuh perlahan melalui kerja sama sekolah dan keluarga.
Ananda memperoleh lebih banyak kesempatan untuk menyampaikan pendapat, menceritakan pengalaman, menjelaskan karya, menjawab pertanyaan, dan melakukan presentasi sederhana.
Anak tidak dituntut berbicara dengan cara yang sama. Guru membantu setiap anak bertumbuh dari titik awalnya—dari bersedia menyimak, menjawab dengan satu kata, hingga mampu menyampaikan gagasan secara lebih runtut.
Memulai kegiatan sering kali terasa menyenangkan. Menyelesaikannya membutuhkan konsentrasi, ketekunan, pengelolaan waktu, dan tanggung jawab.
Melalui aktivitas Montessori, Quranic STEAM, karya seni, permainan kelompok, dan rutinitas harian, anak dibimbing mengikuti proses dari awal hingga selesai.
Ketika menghadapi kesulitan, ia tidak langsung diberi semua jawaban. Guru memberikan pertanyaan, petunjuk, contoh, atau dukungan yang dibutuhkan agar anak dapat melanjutkan usahanya.
TK A dan TK B bukan sekadar dua kelas dengan materi yang berbeda. Keduanya merupakan tahapan perkembangan yang saling berhubungan.
Di TK A, anak memperkuat rasa aman di sekolah, keberanian berinteraksi, kemampuan mengikuti rutinitas, dasar komunikasi, kemandirian awal, serta kemauan mencoba berbagai pengalaman baru.
Anak membutuhkan banyak kesempatan untuk mengenal alat, lingkungan, aturan, perasaan, dan cara bekerja bersama.
Di TK B, anak mulai didampingi mengikuti proses yang lebih panjang, menjelaskan pemikiran dengan lebih jelas, mengelola tanggung jawab, menjaga hafalan, bekerja lebih terarah, dan mencoba strategi lain ketika mengalami hambatan.
Bukan berarti anak TK B harus lebih banyak duduk dan mengerjakan lembar kerja. Tantangan meningkat, tetapi pengalaman konkret dan bermain tetap menjadi cara belajar yang utama.
Anak memahami konsep dengan lebih baik ketika ia terlibat langsung.
Karena itu, pembelajaran dikembangkan melalui permainan, percakapan, cerita, pengamatan lingkungan, benda konkret, eksperimen, konstruksi, kegiatan seni, gerak, dan persoalan yang dekat dengan kehidupan anak.
Guru mempertimbangkan usia, karakter, pengalaman, bahasa, kekuatan, kebutuhan, dan titik awal perkembangan masing-masing anak.
Anak yang membutuhkan dukungan memperoleh bantuan yang lebih terarah. Anak yang telah menunjukkan kesiapan dapat memperoleh tantangan lanjutan tanpa harus menjadikan anak lain sebagai pembanding.
Adab, tanggung jawab, komunikasi santun, kebersihan, serta pengelolaan emosi tidak cukup hanya dijelaskan.
Anak perlu melihatnya melalui teladan orang dewasa, merasakannya dalam hubungan yang hangat, dan mempraktikkannya secara berulang dalam rutinitas sehari-hari.
Dalam batas yang aman dan jelas, anak diberi kesempatan memilih alat, cara bekerja, bahan, peran, atau gagasan yang ingin dikembangkan.
Setiap pilihan diikuti pembelajaran tentang tanggung jawab: menggunakan alat dengan benar, menjaga keselamatan, membereskan area, menghargai pekerjaan orang lain, dan menyelesaikan proses.
Setelah menyelesaikan kegiatan, anak dapat diajak menceritakan apa yang dilakukan, bagian yang paling disukai, kesulitan yang dihadapi, perubahan yang dibuat, dan hal yang ingin dicoba berikutnya.
Refleksi sederhana membantu anak mengenali cara belajarnya sendiri dan membangun kemampuan komunikasi.
Di KB-RA IT Impianku, persiapan anak masuk SD tidak dibatasi pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.
Kami mendampingi tujuh ranah kesiapan yang saling berhubungan.
Anak mengenal Allah, mencintai Al-Qur’an, membiasakan ibadah, memahami aturan sederhana, serta menunjukkan adab dalam kehidupan sehari-hari.
Anak mulai mengenali perasaannya, mengungkapkan kebutuhan, menghadapi kekecewaan, menerima bantuan, dan menggunakan cara yang aman untuk menenangkan diri.
Anak belajar bekerja bersama, menunggu giliran, mendengarkan orang lain, berbagi ruang dan alat, serta menyelesaikan perbedaan dengan bimbingan.
Anak mampu menyimak, memahami pesan, bertanya, menjawab, menceritakan pengalaman, dan menyampaikan gagasan dengan semakin jelas.
Anak mengembangkan kekuatan tubuh, koordinasi, keseimbangan, keterampilan motorik halus, kebiasaan hidup bersih, dan kemampuan menjaga keselamatan diri.
Anak belajar merawat diri, mengelola barang, mengikuti rutinitas, membuat pilihan, menyelesaikan kegiatan, dan memperbaiki kesalahan.
Anak menunjukkan rasa ingin tahu, berani mencoba, mampu mempertahankan perhatian secara bertahap, dan tidak mudah berhenti ketika menghadapi kesulitan.
KB-RA IT Impianku memiliki delapan profil perkembangan lulusan sebagai arah kurikulum, pembelajaran, asesmen, pelaporan, parenting, dan kerja sama dengan keluarga.
Profil tersebut bukan syarat lulus atau gagal. Setiap anak didampingi berdasarkan usia, kebutuhan, keunikan, kondisi, dan titik awal perkembangannya.
Gunakan delapan kotak dengan susunan empat kolom dan dua baris.
Mengenal Allah, mencintai Al-Qur’an, membiasakan ibadah, serta menunjukkan akhlak baik sesuai tahap usia.
Mengenali identitas diri, mencintai Indonesia, menghargai perbedaan, serta mulai mengenal keragaman budaya dan dunia.
Bertanya, mengamati, membandingkan, memperkirakan, menghubungkan sebab dan akibat, serta mencoba memecahkan masalah sederhana.
Menggunakan imajinasi, mengekspresikan gagasan, menghasilkan karya, dan mencoba alternatif ketika cara pertama belum berhasil.
Berbagi, menunggu giliran, mendengarkan, memahami kebutuhan orang lain, dan bekerja bersama dengan bimbingan.
Merawat diri, membuat pilihan, mengelola barang, menyelesaikan kegiatan, meminta bantuan dengan tepat, dan memperbaiki kesalahan.
Menjaga kebersihan dan kebugaran, mengenali kebutuhan tubuh dan emosi, serta menggunakan cara yang aman untuk menenangkan diri.
Menyimak serta mengungkapkan kebutuhan, perasaan, pertanyaan, pengalaman, dan gagasan secara santun.
Setiap anak dapat menunjukkan kemampuan dengan cara yang berbeda. Ada yang mudah bercerita, tetapi masih membutuhkan waktu untuk menuliskan gagasannya. Ada yang mampu bekerja dengan tekun, tetapi perlu dukungan ketika berbicara di depan kelompok. Ada pula yang memahami konsep melalui tindakan sebelum mampu menjelaskannya dengan kata-kata.
Karena itu, asesmen tidak hanya bergantung pada satu tes, satu lembar kerja, satu hasil karya, atau satu kejadian.
Guru mengumpulkan informasi perkembangan melalui:
Hasil asesmen digunakan untuk memahami kemajuan anak, merencanakan pendampingan, memperbaiki lingkungan belajar, dan membangun kerja sama dengan orang tua.
Anak dibandingkan dengan titik awal dan perjalanan perkembangannya sendiri, bukan dengan teman sekelasnya. Bahasa pelaporan menggunakan keterangan perkembangan yang menghargai proses dan tidak memberi label negatif. Prinsip tersebut mengikuti kebijakan asesmen autentik KB-RA IT Impianku.
KB-RA IT Impianku berada di bawah pembinaan Kementerian Agama Republik Indonesia, menjadi bagian dari Jaringan Sekolah Islam Terpadu, dan aktif di berbagai komunitas profesional pendidikan anak usia dini internasional. TK IT Impianku juga memperoleh berbagai pengakuan atas inovasi dan dampak pendidikannya baik di dalam maupun luar negeri.






KB-RA IT Impianku adalah Global Islamic Preschool & Kindergarten di Kota Malang yang menumbuhkan anak beriman, beradab, mandiri, dan cerdas menghadapi zamannya.
Copyright © 2026 KB-RA IT Impianku – Global Islamic Preschool & Kindergarten. All Rights Reserved.