Kelas B di KB-RA IT Impianku merupakan program pendidikan Islam untuk anak usia 5–6 tahun yang sedang menguatkan berbagai kemampuan sebelum melanjutkan perjalanan ke SD/MI.
Melalui tahfidz Juz 30, komunikasi bilingual Indonesia–Inggris, aktivitas Montessori, Quranic STEAM, literasi-numerasi, seni, gerak, serta pembiasaan iman dan adab, anak didampingi untuk semakin mandiri, mampu menyelesaikan tanggung jawab, berani mengomunikasikan gagasan, dan mencintai proses belajar.
Memasuki Kelompok B, anak mulai mampu mengikuti proses yang lebih panjang, menyampaikan gagasan dengan semakin jelas, bekerja bersama, menghadapi tantangan, dan menyelesaikan tanggung jawab yang lebih kompleks.
Di Kelompok B pada KB-RA IT Impianku Malang, kemampuan tersebut tidak dibangun melalui tekanan akademik. Anak tetap belajar melalui permainan, percakapan, material konkret, pengalaman nyata, proyek sederhana, gerak, seni, dan hubungan yang hangat bersama guru.
Hafalan Juz 30 dikuatkan melalui murojaah yang konsisten. Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris digunakan untuk berkomunikasi, bercerita, bertanya, dan menjelaskan pengalaman. Aktivitas Montessori membantu anak semakin mandiri dan teratur, sedangkan Quranic STEAM mengajaknya merencanakan, mencoba, menguji, memperbaiki, serta menjelaskan prosesnya.
Anak tidak hanya dipersiapkan untuk mengikuti pembelajaran pada jenjang berikutnya. Ia didampingi agar memiliki hati yang dekat dengan Al-Qur’an, pikiran yang aktif, emosi yang semakin matang, dan keyakinan bahwa dirinya mampu belajar.
Kesiapan sekolah tidak hanya terlihat ketika anak mampu membaca kata atau menuliskan angka. Kesiapan juga terlihat ketika anak mampu mendengarkan arahan, mengelola barangnya, meminta bantuan, menunggu giliran, menyampaikan gagasan, menghadapi kesalahan, dan menyelesaikan pekerjaan.
Anak yang siap belajar bukan anak yang telah mengetahui semua jawaban. Ia adalah anak yang berani bertanya, mampu berpikir terstruktur, mengikuti proses, dan bersedia mencoba kembali ketika jawabannya belum ditemukan.
Di Kelompok Kelas B KB-RA IT Impianku, kami tidak hanya mempersiapkan apa yang anak ketahui. Namun, kami menguatkan bagaimana cara ia belajar.
Tahun terakhir sebelum pendidikan dasar merupakan masa penting untuk menguatkan seluruh fondasi anak. Orang tua membutuhkan program yang tidak hanya mengejar kemampuan akademik, tetapi juga menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an, membangun keberanian berkomunikasi, melatih ketuntasan, dan menumbuhkan tanggung jawab.
Anak melanjutkan perjalanan tahfidz Juz 30 melalui hafalan bertahap, murojaah rutin, pembelajaran Al-Qur’an metode Ummi, dan pembiasaan adab terhadap Al-Qur’an.
Anak yang telah menyelesaikan Juz 30 dan menunjukkan kesiapan dapat memperoleh pengayaan hafalan berikutnya sesuai program serta perkembangan individualnya.
Anak dibiasakan menggunakan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris untuk bertanya, menjawab, bercerita, menyampaikan pendapat, melakukan show and tell, serta menjelaskan karya atau pengalaman sederhana.
Tujuannya bukan sekadar memperbanyak kosakata, tetapi membangun keberanian dan kemampuan menyampaikan gagasan secara bermakna.
Melalui aktivitas Montessori dan Quranic STEAM, anak belajar memilih strategi, mengikuti urutan, menggunakan alat, menghadapi kegagalan, memperbaiki hasil, dan menyelesaikan pekerjaan.
Anak tidak hanya aktif memulai. Ia juga didampingi untuk bertanggung jawab terhadap proses yang dijalaninya.
Ketika bangunan buatannya runtuh, anak tidak segera diberikan jawaban. Ia diajak melihat kembali susunannya, membandingkan bagian yang kuat dan lemah, mencoba cara lain, lalu menceritakan perubahan yang dibuatnya.
Ketika mendengarkan cerita, anak tidak hanya diminta mengingat tokoh. Ia diajak memahami urutan kejadian, perasaan, sebab-akibat, serta kemungkinan penyelesaian yang berbeda.
Kelompok kelas B di KB-RA IT Impianku mengembangkan pembelajaran yang berakar pada pendidikan Islam dan Kurikulum Berbasis Cinta, selaras dengan prinsip Montessori serta Developmentally Appropriate Practice NAEYC, dan diperkaya melalui Quranic STEAM khas Impianku.
Pendekatan tersebut tidak digunakan sekadar sebagai label, tetapi diterjemahkan menjadi pengalaman yang dapat dilihat, dilakukan, dan dirasakan anak.
Nilai Islam hadir ketika anak menghafal, berbicara, bekerja bersama, menggunakan alat, menghadapi kegagalan, menjaga lingkungan, dan menyelesaikan tanggung jawab.
Lingkungan dan aktivitas membantu anak memilih dalam batas yang jelas, menggunakan benda konkret, bekerja dengan tertib, membangun konsentrasi, dan menyelesaikan aktivitas dengan semakin mandiri.
Guru mempertimbangkan tahap perkembangan, karakter, kekuatan, pengalaman, bahasa, konteks keluarga, serta kebutuhan masing-masing anak ketika merancang pendampingan.
Anak mengamati ciptaan Allah, bertanya, merencanakan, mencoba, menguji, memperbaiki, dan mengomunikasikan hasil. Nilai keselamatan, kejujuran, tanggung jawab, kemaslahatan, dan rasa syukur menjadi bagian dari refleksinya.
Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris digunakan untuk berinteraksi, menceritakan pengalaman, bertanya, menjawab, dan menjelaskan karya sesuai kesiapan anak.
Anak didampingi mengembangkan kesiapan spiritual, emosional, sosial, bahasa, fisik, kemandirian, dan sikap positif terhadap belajar.